MENGAPA KITA TIDAK BAHAGIA
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Kalau dulu manusia masih menggunakan gerobak yang ditarik kuda untuk melakukan perjalanan, kini dengan mobil dan pesawat terbang manusia bisa mendatangi semua tempat dengan cepat. Kini hidup manusia jauh lebih mudah dan praktis. Makanan, tempat hiburan, kendaraan dan sebagainya tersedia dengan berbagai pilihan. Akan tetapi kemajuan di bidang kebendaan tersebut ternyata tidak diimbangi dengan kemajuan rohaniah. Bahkan telah membuat batin manusia semakin tidak berbahagia.
Mengapa ini bisa terjadi?
Apa yang membuat manusia kemudian hidupnya tidak bahagia walaupun telah memiliki segalanya ?
OoO
Di antara kita semua tentu sudah pernah merasakan senang - susah, gembira - bersedih, tertawa - menangis. Kita merasa senang Ketika mendapatkan uang, hidup sehat, hadiah, pekerjaan, naik pangkat dan dapat lotre. Tapi di lain kali ketika kita tidak punya uang, ketika kita sakit, ketika kita banyak utang dan sebagainya, kita susah, Kita menderita.
Susah - senang, tertawa - menangis, sakit - sehat, kaya-miskin adalah bagian siklus kehidupan sebagaimana ada malam, ada siang, ada lelaki ada perempuan, ada hitam dan ada putih. Kita semua terikat oleh dualisme hidup ini.
Apa ada diantara kita yang hidupnya senang terus atau susah terus?
Tidak ada !
Saat kita memiliki harta yang banyak, punya kedudukan dan kekuasaan kita semua senang, kita semua bahagia, namun saat kepala kita sakit atau sakit gigi maka semua itu sudah dapat mengusir kesenangan kita. Jadi kesenangan itu sebenarnya sangat rapuh. hanya sementara saja, dan tidak bertahan lama ketika rasa sakit datang.
Itulah kesenangan jasmani. Apa yang menyenangkan jasmani biasanya juga disusul dengan kebosanan. Kalau sudah bosan maka akan segera mengejar kesenangan yang lain dan begitu seterusnya. Itulah nafsu.
Apapun yang kita lakukan selalu diboncengi oleh nafsu. Nafsu inilah yang mendorong kita untuk terus mengejar kesenangan. nafsu selalu mementingkan diri sendiri.
Apa yang terjadi ketika ketika cinta tidak berbalas, tentu kita menjadi kecewa dan marah. Kemanakah larinya cinta kita ketika istri atau suami menyeleweng dengan orang lain, kemanakah perginya cinta kita ketika anak durhaka dan tidak berbakti kepada kita. Atau seorang sahabat mengkhianati dan merugikan kita?
Itulah ketika cinta menuntut pamrih.
Bahwa tabiat Nafsu adalah selalu mencari kesenangan. Kesenangan akan harta, wanita, kekuasaan dan sebagainya. Nah nafsu dalam mengejar kesenangan inilah yang sebenarnya menimbulkan segala macam perbuatan yang bisa menjerumuskan orang pada kejahatan.
Pengejaran kesenangan dalam bentuk harta dan kekuasaan bisa menjerumuskan orang untuk melakukan Pencurian, perampokan, penipuan hingga pembunuhan. Pengejaran kesenangan dalam bentuk nafsu birahi menimbulkan perkosaan, perselingkuhan, pelacuran dan sebagainya.
Jadi nafsu yang tidak terkendali dapat mencelakan manusia itu sendiri. Nafsu mau terus makan enak, nafsu akan kekuasaan, nafsu akan jabatan dan sebagainya. Nafsu adalah ibarat air laut, semakin di minum semakin haus.
Alquran menyebut ada orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Jadi yang membuat kita tidak bahagia adalah Pertama, nafsu yang tidak terkendali.
Banyak orang yang berusaha mengendalikan hawa nafsunya namun kemudian gagal. Ada yang sudah bertapa di tempat sunyi, tetap saja tidak mampu mengendalikan nafsunya. Ketika berada di puncak gunung yang sunyi nampaknya dia berhasil menidurkan nafsunya, akan tetapi begitu ia turun gunung, nafsunya bergejolak, bahkan menjadi semakin liar, lebih kuat dari pada sebelum ia bertapa.
Ada juga yang ketika miskin, belum banyak uang dia baik, setia dengan istrinya namun sesudah kaya, banyak uang, kerjanya main perempuan terus.
Perjuangan mengendalikan hawa nafsu adalah perjuangan hidup sepanjang hayat.
Kedua, yang membuat kita tidak bahagia adalah pikiran.
Banyak penderitaan yang disebabkan oleh pikiran.
Seorang psikolog bernama Aaron Beck pernah menjadi dokter untuk mengobati orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Karena dia pengikut Sigmund freud, dia bertanya tentang masa kecil mereka lalu dieksplorasi apa yang menyebabkan mereka menderita. Akibatnya ialah kebanyakan pasiennya melakukan bunuh diri karena mereka diingatkan akan luka trauma itu yang sudah mereka sembuhkan dengan sendirinya.
Aaron beck menemukan bahwa psikoanalisis malah merusak pasien bukan menyembuhkannya. Ia menemukan bahwa ternyata penyebab penderitaan mereka adalah pikiran mereka sendiri.
Pikiran yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penderitaan datang. Ketika kita berpikir membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain yang lebih kaya, lebih hebat maka tumbuh rasa iri hati dan iba diri. Dari sini timbul rasa tidak bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan akhirnya hidup kita tidak tenang.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2025/06/lepas-dari-penderitaan.html)
000
Bahwa setelah kita mengetahui dan menyadari bahwa nafsu dan pikiran adalah penyebab ketidakbahagiaan maka yang harus dilakukan adalah mengendalikan hawa nafsu dan pikiran kita. orang yang hidupnya penuh dengan keserakahan, kebencian, iri hati, sulit mendapatkan kebahagiaan walaupun memiliki banyak harta, jabatan dan kekuasaan. Jiwanya tidak pernah tenang.
Nafsu hanya mengejar kesenangan yang sifatnya jasmani, makan enak, rekreasi dan seks, sementara kebahagiaan ada pada batin yang tenang dan damai.
Nabi Muhammad saw pernah di bujuk oleh pembesar quraisy melalui paman beliau, Abu Thalib sebuah tawaran kesenangan duniawi tapi dengan syarat Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya.
Tawaran tersebut adalah :
Pertama, jika Rasulullah SAW menginginkan harta yang banyak, maka kaum Quraisy akan memberikan kepadanya. Bahkan, bila tawaran ini diterima, Nabi Muhammad SAW dapat menjadi orang yang paling kaya raya di antara mereka.
Kedua, jika Rasulullah SAW menginginkan kekuasaan, maka mereka akan menjadikan beliau penguasa di antara mereka.
Ketiga, Jika beliau menginginkan pendamping, mereka akan mencarikan wanita paling cantik di jazirah Arab.
Itu adalah tiga tawaran kesenangan hidup yang paling di buru manusia di dunia ini. Wanita cantik, harta, dan kekuasaan.
Namun apa jawaban beliau ketika mendengar tiga tawaran yang disampaikan tersebut.
Beliau menjawab : Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku hancur karenanya."
Kenapa Nabi Muhammad menolak segala bentuk kesenangan yang ditawarkan kepadanya padahal tawarannya hanya agar menghentikan dakwahnya. Bukankah tujuan semua manusia adalah mengejar tiga hal tersebut.
Karena beliau punya prinsip bahwa dakwah adalah amanah yang membawa kebahagiaan bukan hanya di dunia tapi di akhirat kelak.
Itu adalah bentuk pengendalian hawa nafsu.
hawa nafsu yang akan mencelakakan agama dan akhirat kita, itulah yang harus kita lawan dan kendalikan.
kemampuan mengendalikan hawa nafsu ini adalah sumber kebahagiaan batin. Orang yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya maka hidupnya akan tenang, tentram dan damai.
Bahwa rasa tentram dan damai itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang hidupnya selalu berserah diri dan memanjatkan puji syukur terima kasih dalam hatinya kepada Tuhan atas semua kasih dan berkah.
Inilah hakikat kebahagiaan.
“ Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal-(nya). (QS. An-naziat-ayat-40, 41)”
Ketika dia meninggal nanti maka akan dipanggil Tuhan dengan panggilan
Wahai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.
Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
dan masuklah ke dalam surga-Ku!
(QS.Al fajr ayat 27-30)
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar