MENGIDENTIFIKASI SUATU BERITA ADALAH HOAKZ (3)
Berita bohong atau hoaks telah menjadi ancaman nyata yang berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. bagaimana tidak, hoakz selain dapat menyulut kebencian dan permusuhan antar suku, agama, ras, serta golongan (SARA), hoakz juga dapat merusak ketahanan nasional, menciptakan ketidakpercayaan publik, dan mengancam integrasi bangsa.
Dalam level individu, Hoaks dapat digunakan untuk merusak reputasi, nama baik, serta kredibilitas seseorang dan bahkan lembaga.
Selama masih ada Internet dan media sosial, hoakz akan terus diproduksi dengan berbagai macam kepentingan. Ada yang membuat hoakz untuk kepentingan ekonomi dan finansial, seperti Membuat judul bombastis atau berita palsu yang memancing orang untuk mengeklik tautan. Semakin banyak yang mengeklik maka Pembuatnya mendapatkan uang dari iklan (AdSense) situs tersebut, atau membuat hoaks berupa bagi-bagi hadiah gratis, bantuan sosial palsu, atau lowongan kerja palsu yang ujung-ujungnya meminta data pribadi atau uang korban atau membuat hozks untuk menyebarkan rumor palsu tentang produk kompetitor (misalnya: isu produk mengandung bahan berbahaya) untuk menjatuhkan penjualan mereka.
Bahwa ada juga yang membuat hoakz demi kepentingan politik dan ideologi serta mendapatkan pengaruh sosial seperti untuk pencitraan dan mendapatkan popularitas.
Tindakan ini sering kali terorganisir dan memiliki dampak yang sangat merusak bagi masyarakat karena mereka biasanya menyewa buzzer-buzzer dan influencer politik untuk memanipulasi opini publik.
Mengapa disebut sangat merusak karena pertama, dengan menyewa buzzer dan influencer yang memiliki banyak pengikut, maka informasi palsu dapat dikemas secara menarik agar terlihat sebagai kebenaran atau opini umum (manufactured consent), ini pada akhirnya akan menyesatkan masyarakat dalam menentukan pilihan dalam pemilu. Dampaknya adalah orang yang bodoh dan pembohong bisa menjadi pemimpin.
Kedua, dapat menciptakan polarisasi sosial. Demi kepentingan elektoral atau ideologi, mereka sering kali membenturkan kelompok masyarakat menggunakan isu sensitif (SARA), yang memicu perpecahan mendalam bahkan setelah kontestasi politik selesai. Istilah "Cebong", "Kampret", dan "Kadrun" adalah contoh sebutan ejekan politik di Indonesia yang muncul pada pemilu 2014 dan 2019 akibat polarisasi atau perpecahan pendukung dalam pemilihan umum.
Hoakz ini biasanya semakin masif menjelang tahun politik seperti pemilu dan pilkada. Di sini Hoakz digunakan untuk menjatuhkan lawan politik dan menyesatkan pemilih. Opini publik di bentuk dengan tujuan untuk menggiring masyarakat agar membenci atau mendukung kelompok, calon pemimpin, atau kebijakan tertentu, atau juga di gunakan untuk menjatuhkan reputasi lawan politik dengan menyebarkan fitnah atau skandal palsu (pembunuhan karakter).
Hoakz politik ini sangatlah berbahaya karena dapat memecah belah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan demi melemahkan persatuan.
Bahwa ada beberapa contoh hoakz yang bisa kita temui di media sosial misalnya :
MENGEJUTKAN! Hasil Tes DNA Membuktikan Tokoh Ini Bukan Anak Kandung..." (Memancing rasa penasaran berlebihan dan menyerang privasi/nama baik tokoh).
"DARURAT! Air Minum Merk X Beracun dan Menyebabkan Kematian Mendadak dalam 1 Jam!" (Membuat panik massal tanpa ada sumber atau uji lab resmi)
"Awas! Pemerintah Secara Resmi Akan Menghapus Hak Milik Kendaraan Pribadi Mulai Besok!" (Memicu kemarahan publik terhadap instansi atau pemerintah)
"BENCANA BESAR AKAN TIBA! Ramalan Gempa Dahsyat 9 SR Tinggal Menghitung Jam di Wilayah Ini!" (Memanfaatkan ketakutan masyarakat pasca bencana sungguhan)
Sumber berita tersebut tidak jelas, dan biasanya menggunakan kata-kata seperti "menurut orang dalam" atau mencatut instansi tanpa bukti tautan. Biasanya juga ada kalimat perintah di akhir teks seperti "Sebarkan sebelum dihapus!
Atau
Hoakz politik dengan judul :
SI X (NAMA POLITISI YANG INGIN MAJU PILPRES) MENGAKU BOHONGI RAKYAT.
Hoakz model ini biasanya muncul dan bentuk narasi atau video namun faktanya setelah disimak hingga selesai, isi video itu tidak memiliki bukti atau informasi valid mengenai adanya pernyataan politisi tersebut. Klaim tersebut murni informasi palsu/hoaks.
Atau
Hoakz yang menyebutkan bahwa lembaga resmi (seperti TNI, Polri, atau KPK) maupun tokoh agama besar secara terang-terangan memberikan dukungan kepada si X (calon presiden tertentu).
Padahal faktanya : Lembaga negara itu bersifat netral dan tidak boleh menyatakan dukungan politik praktis, sementara klaim dukungan tokoh sering kali berasal dari pernyataan lama yang dipelintir.
OoO
Nah supaya tidak mudah terjebak dan termakan hoaks, ada beberapa acara atau langkah penting yang perlu dilakukan untuk mengidentifikasi apakah suatu berita adalah hoaks yaitu pertama, Berita hoaks sering menggunakan judul sensasional dan bombastis untuk memancing emosi, kemarahan, atau kepanikan pembaca agar segera membagikannya tanpa berpikir panjang.
Kedua, Periksa sumber informasi, kalau suatu berita berasal dari media resmi yang terverifikasi atau instansi yang kredibel kemungkinan besar berita tersebut benar, namun bila suatu berita berasal dari blog pribadi atau grup percakapan maka periksa terlebih dahulu kebenarannya, akan lebih baik tidak dibagikan,
Ketiga, Periksa domain tautan yang digunakan. situs berita palsu kerap menggunakan nama tiruan atau domain gratisan yang meragukan,
Keempat, bila berita tersebut berupa foto atau video maka gunakan mesin pencari gambar seperti Google Images untuk memeriksa apakah foto atau video tersebut pernah dipakai dalam konteks lain sebelumnya, dan
Kelima, Laporkan akun atau konten yang menyebarkan hoaks kepada pengelola platform media sosial atau pihak berwenang.
Keenam, bila ada suatu berita yang ramai dibicarakan maka untuk memahami lebih jauh kebenarannya, maka cari topik serupa di portal berita terpercaya untuk melihat apakah informasi tersebut valid atau hanya isu sepihak dan terakhir Selalu berpikir kritis dan verifikasi kebenaran data sebelum membagikan informasi ke media sosial.
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar