MENGAPA ADA NEGARA KAYA DAN NEGARA MISKIN
Apabila kita melihat demonstrasi yang terjadi di banyak negara maka tuntutan yang umumnya disuarakan adalah masalah korupsi dan kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat dan hanya menguntungkan segelintir elit (oligarki). intinya rakyat menuntut keadilan ekonomi dan transparansi.
Demonstrasi adalah wujud protes rakyat kepada pemerintahnya yang dianggap tidak berpihak kepada mereka atau tidak becus dalam mengelola negara. Ketika kesenjangan ekonomi semakin tajam, demokrasi tidak jalan, KKN merajalela karena lemahnya penegakan hukum, serta ditambah dengan krisis ekonomi, maka ini bisa memicu ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah. Ketika rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah maka pada akhirnya rakyat akan melakukan revolusi atau reformasi untuk menuntut pergantian rezim.
Bahwa tujuan dari revolusi atau reformasi adalah perubahan tatanan politik dan ekonomi.
Perubahan dimulai dari politik karena semua berawal dari fakta bahwa kebijakan publik, pemerintahan yang demokratis yang menjalankan dan menjunjung tinggi kebebasan, pemerintah yang bisa memberantas korupsi, dan alokasi sumber daya negara (seperti akses pendidikan hingga tata kelola ekonomi) sangat bergantung pada keputusan politik para pemegang kekuasaan.
Benarkah bahwa untuk merubah suatu negara maka yang pertama harus dibenahi adalah politiknya ?
Lalu apa hubungan perbaikan tatanan politik dengan kesejahteraan hidup rakyat ?
oOo
Ada salah satu buku yang menarik yang ditulis oleh dua ahli ekonomi pembangunan yaitu Daron Acemoglu dan James A Robinson yang berjudul Why Nations Fail (mengapa negara gagal). kedua penulis ini selama bertahun-tahun melakukan penelitian untuk menjawab sebuah pertanyaan yang sulit, kenapa di dunia ini ada bangsa yang miskin dan ada bangsa yang kaya?
Lalu apa yang membuat bangsa itu menjadi kaya dan yang lainnya tetap miskin?
Dulu ada teori yang mengatakan bahwa yang menyebabkan sebuah negara itu maju dan kaya atau miskin adalah karena faktor geografis. Sejak akhir abad ke-18 filsuf besar prancis, montesquieu mengamati adanya konsentrasi negara-negara kaya dan miskin di peta dunia, dan dia berusaha menjelaskannya. Montesqieu mengatakan bahwa masyarakat yang hidup di iklim tropis cenderung pemalas dan enggan memakai otaknya untuk belajar. Akibatnya mereka enggan bekerja keras dan berinovasi dan itulah yang menyebabkan mereka miskin.
Namun teori ini tidak bisa dipertahankan karena faktanya banyak negara yang beriklim panas tetap bisa menjadi negara makmur.
Ada juga yang mengatakan bahwa yang membuat suatu negara menjadi kaya dan makmur, salah satunya adalah memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Namun faktanya banyak negara dengan SDA melimpah justru tidak menjadi negara kaya dan malah terjebak dalam kemiskinan akibat salah urus dan korupsi atau menjadi bangsa yang miskin karena proses penjajahan dan kolonisasi yang menimpa mereka.
Di sisi lain ada beberapa negara yang tidak memiliki atau terbatas sumber daya alamnya namun tumbuh menjadi negara kaya. kita sebut saja singapura dan jepang yang merupakan salah satu negara terkaya di dunia.
Bahwa memang tidak bisa dipungkiri kalau negara yang kaya akan sumber daya alam memang bisa saja menjadi negara kaya, namun apabila mereka hanya terus mengandalkan sumber daya alamnya saja maka mereka sangat rawan jatuh menjadi negara miskin kembali. Negara-negara timur tengah seperti Arab saudi, UEA dan kuwait yang kaya akan minyak akan cepat terpuruk menjadi negara miskin apabila harga minyak jatuh, habis atau tidak dipakai lagi. Tanpa minyak, semua negara timur tengah tergolong sebagai negara miskin.
Jadi yang menentukan suatu negara menjadi kaya dan makmur bukanlah semata karena faktor geografi, budaya dan sumber daya yang melimpah. Korea utara dan korea selatan walaupun mereka sama (baik dari segi budaya, suku, ras dan etnik) tapi kehidupan antara korea utara dan korea selatan sangat jauh berbeda. Korea selatan sangat makmur sementara korea utara termasuk ke dalam deretan negara miskin berdasarkan pendapatan perkapitanya. Di Indonesia sendiri pembangunan di pulau jawa, sumatera, dan sulawesi adalah lebih maju dibandingkan dengan pembangunan di Maluku, Papua dan NTT.
Lalu apa sebenarnya yang menentukan suatu bangsa akan menjadi bangsa yang kaya, maju dan makmur ?
Acemoglu dan James A Robinson dalam bukunya “Why Nations Fail” menyimpulkan bahwa Institusi politik dan institusi ekonomi yang terbuka merupakan kunci suatu bangsa untuk meraih kemakmuran.
Di Indonesia, yang dimaksud Institusi politik disini adalah Pemerintah (presiden, Gubernur, Bupati/walikota), legislatif (DPR/DPRD), lembaga hukum (Mahkamah Agung, Pengadilan, Kejaksaan dan Kepolisian) dan lembaga pemilihan umum.
Di dalam Institusi politik yang terbuka/inklusif (yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas , kepastian hukum, dan partisipasi publik) maka masyarakat memiliki akses untuk memantau kinerja pemerintah, memberikan kritik dan terlibat langsung dalam proses politik (melalui pemilu yang adil). Keterbukaan Ini pada akhirnya secara langsung akan mendorong institusi ekonomi yang inklusif pula.
Di dalam institusi ekonomi yang inklusif, maka ketika rakyat merasa mendapatkan perlindungan, akses ekonomi yang setara dan kepastian hukum maka itu akan memicu semangat untuk membuka usaha, berinovasi dan pada akhirnya memicu pertumbuhan kekayaan.
Jadi majunya suatu negara kuncinya adalah pada tatanan politik yang terbuka - yang mencakup birokrasi yang bersih, supremasi hukum yang tegas, serta mekanisme akuntabilitas dan kontrol publik yang berjalan dengan baik. Sistem inilah yang menentukan arah kebijakan publik, mengelola sumber daya dan dukungan dari masyarakat yang pada akhirnya memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan program-program untuk kesejahteraan rakyat.
Namun ketika institusi politik tertutup dimana Politik dikendalikan oleh oligarki (pengusaha, penguasa dan partai politik) maka ini akan menciptakan kebijakan publik dan tata kelola yang hanya berpihak pada kelompok mereka saja. Ini pada akhirnya akan memicu ketimpangan ekonomi yang semakin memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin. masyarakat miskin tetap saja miskin karena tidak memiliki akses untuk keluar dari kemiskinan akibat sistem yang tidak berpihak kepada mereka, dan karena pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kelompok tertentu saja maka ini akan memicu tingginya pengangguran.
Inilah jawaban mengapa ada negara yang kaya akan sumber daya alam namun tetap terjebak menjadi negara terbelakang.
Komentar
Posting Komentar