WASPADA HOAKZ DAN ADU DOMBA
“Jangan membakar rumah sendiri demi memuluskan agenda pihak luar untuk menguasai kekayaan alam kita. Membangun ketahanan bangsa butuh waktu bertahun-tahun tapi meruntuhkannya kadang hanya butuh satu gelombang hoaks yang dipercaya”.
--------
Hoakz atau berita bohong atau fitnah adalah sangat berbahaya, bahkan dampaknya bisa jauh lebih besar dari pada pembunuhan. Berapa banyak negara di dunia ini yang mengalami konflik hebat, perang saudara hingga kehancuran karena manipulasi informasi dan penyebaran berita bohong (hoaks) yang dipercaya oleh masyarakatnya. Ketika hoaks berhasil membakar emosi massa, kepercayaan terhadap institusi negara runtuh dan stabilitas sosial langsung goyah.
Hoakz telah lama dipergunakan sebagai salah satu senjata utama dalam operasi Intelijen modern, khususnya dalam metode perang hibrida (hybrid warfare) dan perang psikologis untuk melemahkan atau menghancurkan suatu negara dari dalam.
Dalam dunia intelijen, taktik ini dikenal sebagai bagian dari operasi disinformasi atau langkah-langkah aktif (active measures). Berbeda dengan kebohongan biasa, hoaks dalam operasi intelijen dirancang secara sistematis untuk memanipulasi persepsi publik dan memicu konflik internal.
Cara kerja Hoakz dalam operasi intelijen biasanya adalah pertama, Intelijen asing mengidentifikasi titik lemah suatu negara, seperti isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan), kesenjangan ekonomi, atau ketidak puasan politik. Hoaks kemudian disuntikkan untuk memperlebar jurang pemisah tersebut.
Kedua, hoaks biasanya dipergunakan dengan target untuk merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, aparat penegak hukum, militer, dan lembaga pemilu. Ketika kepercayaan runtuh, negara akhirnya menjadi tidak stabil.
Ketiga, Hoakz disebarkan dengan menggunakan media sosial namun biasanya memakai akun palsu dan algoritma media sosial untuk menyebarkan berita bohong secara masif dan cepat (pabrik opini).
Bahwa tujuan dari hoakz ini bukan sekadar membuat orang percaya pada kebohongan, melainkan membuat masyarakat bingung dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga memicu apatisme atau amarah yang anarkis.
Nah negara yang menjadi sasaran dari hoakz ini akan mengalami Perpecahan antar-kelompok masyarakat yang bisa berujung pada kerusuhan sipil atau perang saudara, tercipta Ketidakstabilan yang akhirnya membuat investor asing pergi, mata uang melemah, dan pemerintah lumpuh karena sibuk mengatasi konflik internal (krisis politik dan ekonomi). Ini pada akhirnya membuat negara melemah dari dalam sehingga akan sangat mudah di susupi, dikendalikan, atau di intervensi oleh kekuatan asing tanpa perlu adanya invasi militer secara terbuka.
Bahwa belajar dari sejarah, ada beberapa contoh negara yang mengalami kehancuran akibat hoaks dan manipulasi informasi ini diantaranya adalah :
Pertama, RWANDA
Di mana diawali ketika Media massa, khususnya radio RTLM (Radio Télévision Libre des Mille Collines), secara masif menyebarkan hoaks bahwa suku minoritas Tutsi berencana membantai suku mayoritas Hutu. Akibat dari berita yang dipercaya tersebut mengakibatkan kemarahan massa yang kemudian menyebabkan genosida mengerikan. Dalam waktu sekitar 100 hari, 800.000 hingga 1 juta jiwa tewas dibantai oleh sesama warga negaranya.
Kedua, IRAK
Irak adalah negara besar yang hancur karena fitnah besar yang dipercaya oleh seluruh dunia. Dulu Irak di bawah Presiden Saddam husein adalah negara penghasil minyak terbesar dan salah satu kekuatan militer terkuat di timur tengah. Namun Amerika kemudian membangun propaganda melalui media-media mainstream bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Dari sini Amerika mempunyai legitimasi untuk bertindak menyerang Irak.
Presiden Saddam Husein kemudian ditumbangkan dan dibunuh. Tapi tuduhan bahwa Irak memiliki persenjataan pemusnah massal ternyata tidak pernah terbukti. Bahwa yang terjadi kemudian adalah sumur-sumur minyak di Irak telah di eksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak dari AS dan Israel.
Ketiga, LIBYA.
Dulunya Libya di bawah Presiden Moammar Khadafi adalah salah satu negara yang paling makmur di Afrika. Namun karena propaganda politik dan perang informasi yang masif selama peristiwa Arab Spring tahun 2011, Libya terlibat dalam perang saudara. Pada awalnya marak berita di mana Moammar khadafi di narasikan sebagai pemimpin otoriter yang banyak melakukan korupsi dan nepotisme. Hal ini kemudian membangkitkan kemarahan rakyat yang kemudian turun ke jalan protes menuntut reformasi. Dalam demonstrasi banyak yang kemudian menjadi korban. Hoaks dan propaganda asing kemudian masuk untuk memperkeruh suasana.
Para influencer bayaran kemudian menyebarkan banyak video dan foto-foto konflik melalui media sosial (beberapa diantaranya video lama atau kejadian di negara lain) yang disertai narasi mengenai kekejaman Moammar khadafi terhadap rakyatnya sendiri.
Khadafi kemudian tewas dibunuh. Tapi apa yang terjadi setelah Presiden Moammar Khadafi digulingkan ?
Libya tidak menjadi negara demokratis sebagaimana yang selama ini dituntut oleh rakyat Libya melalui reformasi. Libya justru jatuh ke dalam perang saudara hingga hari ini. Sementara sumur-sumur minyak Libya sekarang dikuasai oleh korporasi asing. Libya yang dulunya makmur sekarang menjadi negara miskin.
Keempat, SURIAH.
Sebagaimana libya, suriah di bawah Presiden Bashar Assad dulunya adalah negara makmur. Namun karena masifnya propaganda dan berita hoakz, suriah menjadi ajang perang saudara antar sesama umat Islam. Di media sosial masif dinarasikan bahwa Basshar Asad yang syiah telah membantai rakyatnya sendiri yang berpaham suni. Ini kemudian mendorong para pemuda muslim di berbagai negara datang (dengan dalih berjihad) untuk berperang ke suriah melawan tentara suriah.
Presiden Bashar Asad kemudian jatuh dan kekuasaan dipegang oleh pemberontak yang didukung oleh Amerika dan Israel.
OoO
Bahwa ada kesamaan pola yang terjadi pada perang saudara di Rwanda, Libya, Irak dan Suriah tersebut yaitu presiden dari negara- negara tersebut sama-sama menolak intervensi asing terutama Amerika serikat dan sekutunya untuk menguasai kekayaan alam negara tersebut seperti minyak dan gas bumi.
Bahwa tujuan asli dibalik penyebaran hoak tersebut ternyata adalah penguasaan minyak dan gas serta geopolitik. Ketika Saddam husein berkuasa di Irak, Moammar Khadafi di Libya, dan Bashar Assad di Suriah, pihak asing (korporasi asing terutama perusahaan-perusahaan dari Amerika) tidak bisa seenaknya mengeruk minyak dan memaksakan kehendaknya, tapi pasca ketiga pemimpin negara tersebut jatuh, maka perusahaan asing tersebut kemudian dengan mudah masuk dan mengesplotasi kekayaan minyak negara-negara tersebut.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2024/10/bagaimana-asing-menguasai-kekayaan-alam.html)
OoO
Bahwa Pola inilah yang wajib kita waspadai di Indonesia !
Presiden Prabowo saat ini lagi gencar-gencarnya mendorong hilirisasi dan melarang kekayaan alam kita di jual murah ke luar negeri. Kebijakan ini tentu membuat pihak asing yang tidak bisa lagi menikmati kekayaan alam kita dengan harga murah akan merasa terganggu.
Sejarah membuktikan bahwa senjata paling mematikan bagi sebuah bangsa bukan selalu berupa peluru, melainkan kata-kata bohong yang berhasil menyamar sebagai kebenaran. Tentu Cara paling mudah menggoyahkan negara kaya seperti Indonesia dari dalam adalah dengan sebar hoaks, kompori emosi publik, buat bentrok massal sampai kemudian kita lemah karena sibuk bertengkar sendiri.
Sekarang di era AI di mana video Deep Fake, narasi adu domba dan propaganda di sebar ribuan kali lebih cepat ke HP tentu kita harus lebih waspada lagi.
Panduan alquran ini tentu sangat penting untuk menjadi pegangan bagi kita semua :
“Wahai orang-orang yang beriman, Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (QS. Al hujurat ayat 6)
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar