PRABOWO DAN PENGKRITIKNYA
Menjaga persatuan dan kesatuan nasional merupakan fondasi penting bagi stabilitas dan kemajuan suatu negara, terlepas dari siapa pun pemimpin yang sedang menjabat. Dukungan terhadap Presiden adalah bagian dari komitmen menjaga keutuhan bangsa. Meskipun demikian bukan berarti sikap kritis yang konstruktif tidak diperlukan. Ia tetap diperlukan sebagai fungsi kontrol dalam demokrasi. Namun ketika kritik sudah bercampur dengan fitnah, caci maki dan anjuran untuk menjatuhkan Presiden maka itu bukan lagi bagian dari kebebasan berpendapat melainkan bentuk pelanggaran hukum dan ancaman terhadap stabilitas negara yang wajib ditindak demi melindungi keselamatan seluruh warga negara.
---------
Bagi mereka yang sudah membaca visi besar Prabowo untuk Indonesia melalui dua buku yang ditulisnya yaitu Paradoks Indonesia dan strategi transformasi budaya menuju Indonesia emas, maka mereka akan melihat bahwa semua program pembangunan yang dilakukan oleh presiden Prabowo sekarang seperti memberi makan bergizi gratis, membangun sekolah dan koperasi dan sebagainya adalah sesuai dengan apa yang beliau tulis beberapa puluh tahun yang lalu.
Prabowo adalah pembaca buku dan tipikal intelektual yang ingin mewujudkan ide-idenya tentang kemajuan Indonesia melalui perjuangan politik. Beliau sadar sebuah gagasan besar tentang Indonesia hanya bisa diimplementasikan melalui kekuasaan. Maka untuk itu beliau maju berkali-kali menjadi calon presiden, dan walaupun empat kali kalah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, hingga risiko kehilangan nyawa, beliau terus maju sampai akhirnya pemilu ke 5 beliau terpilih menjadi Presiden.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2024/10/presiden-prabowo-subianto.html)
Tapi saat belum lama menjadi Presiden dan melakukan banyak gebrakan besar bahkan sampai berani menyentuh kepentingan para oligarki yang selama puluhan tahun tidak pernah disentuh kekuasaan, serangan besar mulai tertuju kepada Presiden Prabowo. IHSG di serang yang menyebabkan nilai rupiah jatuh terhadap dollar, Para oligarki serentak memindahkan uangnya ke luar negeri, muncul narasi Indonesia gelap, bahkan banyak program yang justru pro rakyat di serang dan dianggap sekedar pemborosan anggaran.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2026/05/mewaspadai-ajakan-pelengseran-presiden.html)
Prabowo Subianto adalah satu-satunya Presiden di Indonesia yang baru menjabat satu tahun namun sudah di tuntut dan di demo untuk diberhentikan.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2025/03/100-hari-pemerintahan-presiden-prabowo.html)
Lalu apa kesalahan yang dilakukan oleh Prabowo ?
Prabowo tidak melanggar konstitusi, malah menghidupkan kembali konstitusi khususnya pasal 33 UUD 1945 untuk menyelamatkan kembali kekayaan alam kita yang semakin terkuras. Terkuras bukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat tapi terkuras karena dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran oligarki.
Prabowo tidak melakukan korupsi malah memberantas korupsi besar yang selama puluhan tahun tidak pernah disentuh seperti korupsi di bidang energi, pertambangan dan sumber daya alam dan berhasil menyelamatkan kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah.
Prabowo tidak mengutamakan oligarki tapi justru membela kepentingan rakyat dengan menggelontorkan anggaran ratusan triliun untuk memberi makan bergizi gratis, membangun sekolah dan koperasi.
Prabowo juga membuat bangsa Indonesia bangga dengan menjadi salah satu pemimpin global yang di daulat untuk berbicara di berbagai forum dunia serta duduk berdampingan berkali-kali dengan pemimpin besar dunia lainnya seperti Presiden Putin dari Rusia, Presiden Tiongkok Ji zinping, Presiden macron dari prancis dan pemimpin dunia lainnya. ini menandakan pengakuan para pemimpin dunia terhadap Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Bahkan dalam situasi geopolitik sekarang ini yang membuat seluruh negara di dunia ini terhenti pertumbuhan ekonominya, Indonesia malah masih bisa tumbuh ekonominya 5,6 % dan berhasil mewujudkan swasembada pangan dan sebentar lagi swasembada energi.
Tapi apapun yang dilakukan oleh Prabowo, tidak ada yang patut di puji oleh mereka para pembenci ini. Mereka terus menerus mengkritik apapun yang dilakukan presiden Prabowo, dari keseleo lidah saat berpidato, kunjungan ke luar negeri hingga dianggap memboroskan anggaran untuk program pembangunan yang dianggap tidak terlalu penting.
Apakah semua kritik mereka itu dilandasi oleh idealisme, kejujuran intelektual atau karena ada pesanan dari bohir yang membuat kantong mereka menjadi tebal. Mengapa mereka seolah-olah begitu membenci Presiden Prabowo ?
Apakah mata batin mereka buta sehingga tidak bisa lagi menilai mana pemimpin baik yang betul-betul berpihak kepada rakyat dan mana pemimpin jahat yang kerjanya menggadaikan kekayaan alam bangsa untuk kepentingan kelompoknya saja.
Kenapa mereka tidak menyerang para oligarki yang selama puluhan tahun telah merusak dan membuat bencana bagi bangsa ini. Merekalah yang membuat bangsa ini berutang banyak sehingga negara terpaksa menanggulangi hutang-hutang mereka. Mereka yang telah merampok uang negara ratusan triliun melalui BLBI, mereka yang telah merusak hutan, sungai dan gunung untuk memuaskan kerakusan mereka akan harta. Mereka yang mencuri uang negara dalam bentuk under invoicing dan transfer pricing. Mereka adalah sekelompok kecil orang yang paling diuntungkan oleh pembangunan melalui hak monopoli dan kolusi melalui jaringan nepotisme yang sudah teramat parah.
Ketika Prabowo meminta pertanggungjawaban mereka untuk mengembalikan uang negara yang telah mereka rampok, ketika Prabowo membatasi ruang gerak mereka agar tidak melakukan lagi kejahatan yang sama, mereka tidak ada yang mendukung Prabowo. Mereka lebih memilih bungkam dari pada bersuara
Kampus, Intelektual dan mahasiswa yang selama ini dianggap garda terdepan dalam membela hati nurani rakyat sekarang banyak yang terjebak dalam permainan politik. Mereka telah kehilangan kejernihan dalam berpikir dan berlogika. Ini adalah tragedi intelektual yang melingkari kita saat ini. Gus Dur pernah menyebut mereka dengan istilah “Intelektual tukang” untuk menggambarkan para akademi, ilmuwan atau intelektual yang tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran intelektual tapi telah menghamba kepada uang dan jabatan.
Alih-alih menggunakan ilmunya untuk membela kebenaran dan kepentingan masyarakat luas, mereka justru memproduksi pernyataan, riset atau opini publik yang disesuaikan dengan pesanan pembayar.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2023/09/mengapa-mereka-marahtugas-seorang.html)
Komentar
Posting Komentar