Langsung ke konten utama

Postingan

WAHAI ULAMA, TINGGALKAN POLITIK PERSATUKAN UMAT

WAHAI ULAMA, TINGGALKAN POLITIK PERSATUKAN UMAT Ulama adalah pewaris Nabi (HR. At-Tirmidzi). Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tapi mewariskan ilmu dan akhlak. Ulama melanjutkan tugas para Nabi   untuk mendidik dan mengajar umat manusia dengan ilmu dan akhlaknya. Oleh karena tugas itulah maka ulama adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah swt setelah para Nabi. Dan karena kemuliaan seorang ulama adalah pada ilmunya maka hidup mereka lebih banyak digunakan untuk menekuni dan mempelajari ilmu-ilmu agama dan dunia serta mendakwahkannya kepada umat manusia. Ulama adalah pelita ditengah kegelapan. Salah satu ciri seorang ulama adalah rasa takutnya kepada Allah swt (QS. Fathir ayat 28). maka dari itu kehidupan seorang ulama diwarnai dengan kejujuran dan keikhlasan dalam membimbing umat manusia. Ketika berfatwa mereka tidak mau melacurkan ilmunya dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau mengharamkan apa yang sudah dihalalkan oleh Allah swt. ...

AGAMA, NEGARA DAN POLITIK

AGAMA, NEGARA DAN POLITIK Ada seratus dua puluh empat ribu Nabi yang diutus Allah kepada umat manusia (HR. Ahmad dan Al Baihaqi). semua Nabi tersebut sejak Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad saw.   membawa kalimat tauhid yang sama yaitu tiada Tuhan selain Allah maka sembahlah Allah saja dan jangan menyekutukannya dengan apapun. Alquran menceritakan sejarah para Nabi yang semuanya diisi dengan penentangan oleh sebagian besar umat manusia terhadap sistem keagamaan yang dibawa oleh para Nabi namun akhirnya sejarah juga mengajarkan bahwa siapa yang mengikuti petunjuk Tuhan maka dia akan memperoleh keberuntungan dan keselamatan sedangkan yang berpaling dari petunjuk Tuhan akan mendapatkan kerugian dan kebinasan. Umat Islam menyakini dari seratus dua puluh empat ribu Nabi yang diutus Allah swt., masing-masing diutus hanya untuk kaum dan bangsa tertentu pada masa itu sebelum akhirnya Nabi Muhammad saw diutus sebagai Nabi terakhir untuk seluruh umat manusia sampai akhir z...

PEMIMPIN

PEMIMPIN   Suatu ketika Abu Dzar mendatangi Rasulullah saw, dan meminta agar diberikan suatu jabatan kepadanya. Atas permintaan Abu Dzar tersebut, Rasulullah tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya dan kemudian bersabbda,” wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau seorang yang lemah dan jabatan itu adalah suatu amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali yang menjalankannya dengan baik dan melaksanakan tanggung jawabnya (HR. Muslim). Di masa Khulafaur Rasyidin, banyak sahabat yang menghindar dari jabatan pollitik seperti khalifah, gubernur maupun qadhi (hakim) karena mereka selalu teringat dengan pesan Nabi saw mengenai   beratnya beban dan tanggung jawab seorang pemimpin, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Lalu bagaimana dengan sekarang ?   Jabatan menjadi barang rebutan seperti anak kecil yang bertengkar memperebutkan mainan. Demi memperoleh jabatan rela berbohong dengan mengumbar janji-janji palsu padahal dia tahu janji-janji...

MENGAPA KITA PERLU AKHLAK

MENGAPA KITA PERLU AKHLAK Saat ini kita sebagai bangsa Indonesia jarang membahas akhlak. Siaran televisi kita lebih banyak membicarakan politik, ekonomi, gosip artis hingga nilai tukar rupiah daripada membahas tentang akhlak.   Apakah bangsa Indonesia tidak memerlukannya lagi sehingga pelajaran pendidikan budi pekerti pun harus dihapus dari kurikulum sekolah. Padahal sadarkah kita apa yang terjadi ketika kita telah kehilangan akhlak ? Elit-elit Politik dan cukong-cukong menjarah kekayaan alam dengan ugal-ugalan tanpa memikirkan masa depan anak dan cucu, rakyat tidak lagi menghormati pemimpinya, berpolitik tidak lagi memakai etika, sesama rakyat saling membully, sementara   fakir miskin bukan lagi dikasihani tapi dieksploitasi untuk kepentingan pribadi dan berbagai kejahatan lainnya. kita hidup dalam krisis akhlak. Oleh karena itu kita perlu membicarakannya lagi karena ini adalah sesuatu yang sangat penting. Tapi siapa yang memiliki otoritas untuk berbicara mengen...

SPEAKER MASJID, SYIAR ISLAM DAN TOLERANSI (Belajar dari kasus Ibu Meiliana)

SPEAKER MASJID, SYIAR ISLAM DAN TOLERANSI (Belajar dari kasus Ibu Meiliana) Baru-baru ini seorang ibu tiga anak keturunan tionghoa warga di tanjung balai sumatera utara yang bernama Meiliana di vonis 18 bulan penjara oleh Pengadilan lantaran mengeluhkan pengeras suara masjid yang dianggapnya terlalu keras dan mengganggu. Kasus ini menjadi viral tentu ada hikmahnya bahwa permasalahan pengeras suara masjid yang selama ini jarang dipersoalkan agar menjadi bahan renungan bagi pengurus masjid untuk lebih instropeksi diri, apakah mengeraskan suara speaker masjid untuk kegiatan ritual atau syiar Islam dapat dibenarkan ketika itu telah mengganggu ketenangan dan ketertiban umum. Membahas masalah ini tentunya sangat sensitif, salah-salah dalam menanggapi bisa-bisa dituding munafik dan membela orang kafir. Tapi menyampaikan yang diyakini benar walaupun pahit tetap harus dilakukan sebagai representasi saling menasehati dalam kebenaran (QS. Al Ashr). Apakah sebenarnya yang diprote...

SEJENAK MEREGUK MATA AIR

BERBUAT BAIKLAH, JANGAN HIRAUKAN PENILAIAN MANUSIA KEPADA DIRIMU Ada sebuah cerita yang diambil dari buku harian sultan Murad IV (sultan Turki Usmani). Pada suatu malam, sang sultan gelisah dan mengajak pengawalnya untuk keluar istana dengan menyamar, sekalian melihat kondisi rakyatnya. Diperjalanan tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Ketika dibangungkan oleh Sultan ternyata ia telah wafat. Orang-orang yang lewat disitu tidak ada yang peduli dengan mayat tersebut. Sultan lalu memanggil mereka, kemudian mereka bertanya “ada apa? apa yang kau inginkan? Sultan berkata,” mengapa orang ini wafat, tapi tidak ada satupun diantara kalian yang membawanya. Siapa dia? dan dimana keluarganya? Mereka berkata,” orang ini sesat, pelaku maksiat, dia selalu minum khamr dan berzina dengan pelacur. Sultan berkata.” Tapi…… bukankah ia juga umat Muhammad SAW ? Ayo, angkat kita bawa kerumahnya. Maka mereka pun membawa mayat laki-laki itu ke rumahnya. ...