ROBOT, AI DAN HATI
Dulu manusia mengandalkan otot dan otaknya untuk bertahan dan mencari penghidupan. Dengan ototnya manusia mengejar hewan buruan, memanjat pohon, mencangkul tanah, menanam benih, memanen hasil bumi, dan membangun tempat tinggal yang melindungi mereka dari cuaca buruk, sementara dengan otaknya manusia merancang strategi, menciptakan alat, dan beradaptasi dengan lingkungan.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan adanya revolusi Industri maka mesin-mesin/robot kemudian menggantikan tenaga manusia. Robot lebih efisien, tidak perlu gaji dan tunjangan besar, serta mengurangi resiko kerja. Dalam bekerja Robot jarang membuat kesalahan dan lebih presisi daripada pekerja manusia. Robot juga dapat bekerja dengan kecepatan konstan tanpa istirahat dan hari libur. Mereka juga tidak protes dan mengeluh.
Robot kini telah banyak mengambil alih kekuatan fisik manusia. Mereka bisa membuat apa saja dengan tenaga yang lebih besar. Otot dan fisik Manusia telah dikalahkan dengan robot.
Sekarang muncul teknologi baru yang jauh lebih canggih. Namanya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Cerdasnya bisa ribuan kali kecerdasan manusia. Kemampuannya menyimpan memori dan mengolah data jauh lebih canggih daripada pikiran manusia. kemampuan berpikir manusia kini juga telah mulai diambil alih oleh yang namanya Artificial Intelligence (AI).
Apa yang terjadi ketika manusia telah menyerahkan daya pikir dan keputusannya kepada mesin yang namanya Artificial Intelligence (AI) ini ?
Manusia pada akhirnya akan semakin malas berpikir dan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis (kognitif).
Tinggal satu harapan manusia yaitu hatinya.
Hati inilah satu-satunya yang mungkin tidak akan pernah dikalahkan dan tergantikan oleh robot dan kecerdasan artificial intelligence. Sehebat apa pun teknologi dan kecerdasan manusia, tanpa kesadaran hati, maka semuanya akan menjadi hampa, merusak, dan berpotensi menjadi ancaman bagi kemanusiaan itu sendiri.
Teknologi tanpa dibimbing oleh hati nurani akan menjadi alat yang berbahaya dan berpotensi merusak kehidupan manusia serta lingkungan
Tanpa bimbingan hati Nurani maka teknologi rentan dipakai untuk kejahatan siber, penipuan daring, dan pencurian data
Kecerdasan digital yang tidak diimbangi etika dan moral akan melahirkan manusia pintar yang mengabaikan dampak sosial seperti eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang akhirnya merusak lingkungan
Teknologi informasi tanpa bimbingan hati Nurani akan dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan fitnah massal, kebencian, dan memecah belah Masyarakat.
Oleh karena itu hati harus di jaga dan di perkuat, karena disinilah tempatnya kesadaran, empati, dan moralitas.
Rasulullah Saw. bersabda bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, itulah hati (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahwa karena itu menjaga hati (qalb) dalam ajaran Islam adalah kunci utama keselamatan. Dunia maupun akhirat (QS. Asy-Syu'ara: 88–89).
Lalu bagaimana menjaga hati ini ?
Agama memberikan petunjuk agar kita selalu dzikrullah, mengingat Allah (QS. Ar-Ra'd ayat 28), membaca alquran (QS. Al Isra ayat 82), menjaga panca indera dari sesuatu yang mengotori hati, dan menghindari sifat iri hati, dengki, sombong, riya dan dendam kepada sesama manusia.
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar