MENGAPA ADA BENCANA, KEBURUKAN DAN KEJAHATAN
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) - QS. Ar-Rum ayat 41”
-------
Pada tulisan terdahulu (Mengenal kebenaran melalui filsafat) kita telah membahas bahwa awal mula pencarian manusia mengenai Tuhan adalah dengan mengandalkan akal dan pengetahuannya. Manusia dengan mengandalkan akal dan pengetahuannya kemudian ada yang beriman dimana mereka percaya akan beradaan Tuhan dan ada juga yang tidak mengakui Tuhan.
Ada beberapa pertanyaan gugatan yang diajukan oleh kalangan ateis untuk meragukan keberadaan Tuhan. Bagi mereka Jika Tuhan memang ada, jika Tuhan itu maha baik dan maha kuasa, mengapa ada banyak kejahatan dan keburukan terjadi di dunia ini ? Mengapa terjadi banyak bencana alam, perang, pembunuhan, kelaparan, kemiskinan dan sebagainya yang menimpa manusia? Apabila Tuhan berkuasa untuk mencegah kejahatan dan keburukan terjadi lalu mengapa Dia tidak menghentikannya ? Mengapa Tuhan yang katanya maha pengasih dan Maha Penyayang tidak hadir memberikan pertolongan pada mereka yang tertindas dan tak berdaya atau mengapa Tuhan tidak memberikan hukuman langsung kepada mereka yang melakukan penindasan?
Bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas sebenarnya muncul karena adanya kontradiksi logis atau teologis yang dirasakan manusia antara konsep Tuhan yang maha baik, maha kuasa dan maha tahu dengan realitas penderitaan yang dialami manusia.
Akal manusia sangat terbatas jangkauannya. Keterbatasan akal seringkali membuat manusia sulit memahami alasan di balik penderitaan atau kejadian buruk. Penderitaan bukanlah bukti ketiadaan Tuhan, melainkan ujian hikmah di mana manusia dituntut kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan akalnya.
Keburukan dan penderitaan yang dialami manusia sebenarnya adalah merupakan bagian dari kebijaksanaan dan wujud kasih sayang Tuhan bagi manusia. Tinggal bagaimana manusia menyikapi dan mengambil hikmah dari itu semua.
Di dunia ini tidak ada keburukan yang mutlak. Manusia menganggap serangga buruk karena dianggap mengganggu ketenangan manusia, namun di sisi lain kita dapati fakta bahwa serangga justru berperan dalam proses penyerbukan tanaman yang memberi manfaat penting bagi kelangsungan hidup tanaman tersebut. Begitu pula dengan berbagai fenomena alam seperti gempa bumi dan meletusnya gunung berapi dianggap membawa keburukan bagi manusia yang tinggal di sekitar tempat itu namun bagi alam itu sendiri justru menciptakan stabilitas dan keseimbangan bumi.
Jadi pada hakekatnya tidak ada keburukan mutlak. Semua keburukan sifatnya temporal dan ditahap tertentu saja. Segala keburukan yang terjadi dan ditemui manusia di dunia ini justru akan mendorong manusia bertumbuh lebih baik dan menuju kepada kesempurnaan sesuai dengan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.
Antony Flew, seorang filsuf ateis yang kemudian beriman, menyatakan bahwa keburukan dan penderitaan bersifat positif karena merangsang intelektual manusia. Ketika manusia mengetahui adanya bencana alam, akalnya berkembang untuk menciptakan berbagai alat yang dapat memproteksi dirinya dari bencana tersebut. Ketika mengetahui ada penyakit kronis dan wabah menular, pikirannya berkembang hingga berhasil menciptakan obat-obatan yang dapat menyelamatkannya. Dengan demikian keburukan dan penderitaan itu memacu serta memicu potensi akal manusia sehingga ia mampu berinovasi dan memproduksi berbagai hal yang bermanfaat.
keburukan dan penderitaan juga membuat jiwa manusia bertumbuh lebih baik. Ketika seseorang menyaksikan masyarakat di sekitarnya menderita karena ditimpa penyakit, kelemahan dan kemiskinan, hal itu dapat membangkitkan empati sosialnya untuk memberi, berkorban, dan menafkahkan hartanya. Andaikata tidak ada kalangan fakir, sakit dan lemah, niscaya manusia tidak memiliki dorongan empati untuk memberi dan berkorban.
Di sisi lain, Penderitaan, keburukan yang dialami manusia akan mengajarkannya tentang kesabaran dan keteguhan hati. Seseorang yang biasa hidup dalam kemewahan dan kesenangan tidak akan sanggup menahan rasa sakit. Berbeda halnya dengan mereka yang terbiasa menjalani kehidupan sulit, mereka akan menjadi pribadi yang lebih sabar dan tabah.
Jadi Allah menetapkan keburukan dan penderitaan - meskipun Dia Maha Kuasa untuk mencegahnya - agar manusia dapat menyadari kelemahan dirinya di Hadapan Tuhan yang maha absolut sehingga dia kembali kepada Tuhan (QS.Ar Rum ayat 41)
Adanya gempa bumi, meletusnya gunung berapi, banjir dan penderitaan yang dialaminya akan menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya. Agar manusia menyadari kemampuannya terbatas, dirinya lemah, fakir, butuh dan hina di hadapan Allah sehingga dengan kesadaran ini ia akan tunduk kepada Allah dengan penghambaan yang sebenarnya.
Andaikan manusia tidak menyadari hal ini maka manusia bisa dibekap oleh rasa takabur dan bangga pada dirinya sendiri.
Ali bin Abi Thalib mengatakan “pantaskah anak adam (manusia) menyombongkan diri ? padahal mulanya Ia hanyalah setetes mani dan berakhir sebagai bangkai yang busuk.
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar