MEMPERDEBATKAN TUHAN
Dalam sejarah filsafat sampai saat ini, salah satu objek kajian yang menjadi perdebatan para filosof dan ilmuwan adalah mengenai keberadaan Tuhan. Apakah Tuhan itu benar-benar ada atau sekedar imajinasi manusia.
Para filosof dan ilmuwan yang menolak keberadaan Tuhan pada umumnya berpendapat bahwa Tuhan dan bahkan agama adalah konsep yang diciptakan oleh manusia itu sendiri di tengah ketidakpastian hidup. Dengan adanya kepercayaan kepada Tuhan maka manusia memiliki pengharapan dan rasa aman.
Di tengah keterbatasan manusia di alam semesta yang luas ini, kepercayaan kepada Tuhan membuat manusia lebih kuat dalam menghadapi masalah seperti adanya penyakit, kematian, penderitaan dan sebagainya. Bahwa konsep Tuhan sebenarnya adalah respon atas ketakutan manusia terhadap alam semesta yang tak terkendali dan rasa takut terhadap kematian.
Bagi mereka Tuhan adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui dan tidak dapat dibuktikan melalui metode ilmiah, dan ketiadaan bukti empiris ini menandakan bahwa Tuhan hanyalah konsep khayalan manusia saja.
Mereka juga berargumen bahwa alam semesta yang luas ini, bukanlah ciptaan Tuhan. Alam semesta ini ada karena adanya hukum gratifikasi dan fisika dimana alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Bagi mereka tidak perlu menggunakan Tuhan untuk menjelaskan asal usul alam semesta.
Mereka juga menggugat keberadaan Tuhan dengan argumen bahwa kalau benar Tuhan itu ada dan Tuhan itu maha kuasa dan maha baik lalu mengapa kemudian ada banyak penderitaan, perang, bencana alam, penyakit, kejahatan dan berbagai keburukan lainnya. Kalau Tuhan itu maha penyayang dan maha kuasa lalu mengapa banyak orang-orang baik justru hidupnya menderita sementara mereka yang jahat hidupnya kaya, berkuasa dan bahkan panjang umur.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2026/05/mengapa-ada-bencana-keburukan-dan.html)
Bahwa terkait agama, mereka juga mengatakan bahwa agama itu dibuat sendiri oleh manusia hanyalah untuk memperkuat ikatan sosial dan kolektivitas diantara mereka. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh agama yang dianggap menjadi perantara untuk berhubungan dengan Tuhan melalui ritual dan doa-doa.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2025/04/ketika-sains-dan-filsafat.html)
Pikiran-pikiran yang menggugat keberadaan Tuhan ini sangat berkembang di barat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dianggap telah mampu menjawab banyak persoalan manusia.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2024/03/barat-yang-menjauh-dari-tuhan.html)
oOo
Lalu apa argumen para filosof dan ilmuwan yang mengakui keberadaan Tuhan.
Mereka yang mengakui keberadaan Tuhan biasanya menggunakan argumen sebab akibat dan keteraturan alam semesta. Bagi mereka segala sesuatu yang mulai ada pasti memiliki penyebab. Alam semesta memiliki awal sehingga pasti ada penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh apapun, itulah pencipta atau Tuhan. Jadi pencipta ada karena sesuatu tidak mungkin ada dengan sendirinya atau tidak mungkin sesuatu itu ada karena muncul dengan sendirinya.
Bahwa bagi mereka, Keseimbangan alam semesta ini, dimana semuanya berjalan dan bergerak secara teratur dan harmoni adalah menunjukkan adanya desain yang disengaja, ini bukanlah kebetulan. Ini semua membuktikan bahwa alam semesta tidak tercipta dengan sendirinya artinya ada keterlibatan pencipta yang maha kuasa dan berilmu. Albert Einstein menyebutnya “kecerdasan superior” di balik hukum alam.
Bahwa membuktikan keberadaan Tuhan tidak bisa dilakukan secara ilmiah melalui bukti empiris yang dapat diamati dan diukur, karena Tuhan bersifat supranatural dan di luar jangkauan fisik sains modern. Sains berfocus pada dunia fisik sedangkan Tuhan adalah metafisik.
Bagi para filosof dan ilmuwan yang beriman ini, sains itu netral. sains tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan namun sains juga tidak dapat menyangkalnya.
oOo
Bahwa kalau kita melihat argumen mereka yang menolak keberadaan Tuhan dan argumen mereka yang mengakui keberadaan Tuhan maka pada dasarnya mereka semua menggunakan akal dan logikanya.
Lalu mengapa dengan akal dan logika itu mereka bisa berbeda dalam memahami keberadaan Tuhan.
Akal dan logika merupakan alat yang ampuh bagi manusia untuk berpikir/bernalar, namun demikian akal manusia tetap memiliki keterbatasan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam mencapai kebenaran.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2025/02/pentingnya-akal-dalam-islam-1.html)
Nah ketika akal dan logika manusia itu terbatas - terutama dalam memahami hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh bukti empiris - maka tentunya dibutuhkan instrumen lain yang dapat menjangkau apa yang tidak tersentuh oleh nalar.
Disinilah dibutuhkan wahyu dan iman untuk hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan tersebut. kebenaran yang hakiki hanya bisa ditemukan melalui sinergi antara wahyu, akal, dan pengalaman.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2025/04/antara-sains-filsafat-dan-agama-1.html)
oOo
Lalu apa jawaban wahyu alquran terhadap perdebatan diantara filosof dan ilmuwan tentang keberadaan Tuhan dan alam semesta ini
Inilah jawabannya.
Pertama, mengenai siapa yang menciptakan alam semesta.
Alquran menegaskan bahwa Tuhan adalah yang menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya tanpa adanya campur tangan pihak lain (QS. As Sajdah ayat 4).
Bahwa Tuhan itu hanya satu yaitu Allah swt. Bahwa jika ada Tuhan selain Allah, maka niscaya langit dan bumi akan rusak (QS. Al Anbiya ayat 22).
Bahwa Allah menciptakan alam semesta ini tidak dilakukan secara instan, melainkan dalam enam tahapan atau masa (QS. Al A’raf ayat 54).
Bahwa AlQur'an mengisyaratkan bahwa dahulu langit dan bumi itu menyatu, kemudian Allah memisahkannya (QS. Al-Anbiya ayat 30). - ini sering dikaitkan dengan teori big bang yang menyatakan bahwa langit dan bumi awalnya menyatu kemudian dipisahkan setelah terjadinya ledakan besar (big Bang)
Bahwa tujuan Allah menciptakan alam semesta dan manusia adalah agar manusia dapat mengenali tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, serta beribadah kepada-Nya (QS. Adzariyat ayat 56)
Kedua, mengenai penolakan mereka terhadap keberadaan Tuhan (ateis) atau mengingkari penciptaanNya,
Bahwa alquran memberikan jawaban mengenai asal usul mereka dimana dinyatakan bahwa manusia itu awalnya berasal dari sesuatu yang hina (setetes air mani) yang bercampur yang kemudian berkembang menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu menjadi tulang belulang yang dibungkus daging hingga kemudian lahir menjadi seorang manusia (QS. Al-Mu'minun ayat 12-14).
Lalu mengapa kemudian manusia melupakan asal-usulnya yang lemah itu dan menjadi pembangkang terhadap penciptaNya.
Al-Qur'an kemudian mengabarkan bahwa kelak orang-orang yang tetap keras kepala menolak keberadaan Tuhan hingga kematian mendatangi mereka maka mereka ini nantinya akan sangat menyesal ketika melihat kebenaran pada hari kebangkitan, namun penyesalan itu tidak berguna lagi. Mereka semua itu kelak di hari kiamat akan ditempatkan di neraka untuk mendapatkan siksaNya (QS. Al furqan ayat 11)
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2023/03/apakah-kiamat-sudah-dekat.html)
Anda percaya atau tidak.
Pilihan ada ditangan anda !
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar