MEWUJUDKAN PERSATUAN SUNNI DAN SYIAH (2)
“Musuh Islam sebenarnya adalah mereka yang mencoba menyakinkan kalian bahwa Sunni dan Syiah bermusuhan (Habib Ali Al Jufri - ulama sunni)”
-----
Bahwa dalam tulisan yang lalu kami telah membahas bahwa konflik sunni - syiah sebenarnya adalah fenomena timur tengah. Di sanalah selama 14 abad silam, terjadi konflik berdarah yang memakan korban ribuan umat Islam yang kemudian membekas sangat dalam dan menjadi dendam kesumat hinggat saat ini.
Akar masalahnya adalah perbedaan pandangan mengenai siapa yang menjadi pemimpin kaum muslimin setelah Nabi Muhammad saw wafat pada 632 M. Perbedaan suksesi kepemimpinan umat ini kemudian melahirkan dua kelompok besar umat Islam yang kemudian disebut dengan sunni dan syiah. Sunni menyakini pemimpin itu dipilih secara konsensus melalui Musyawarah sedangkan Syiah menyakini pemimpin setelah Nabi Muhammad saw adalah Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
Di Indonesia sendiri yang mayoritas umat Islam adalah sunni, pengetahuan mereka tentang syiah adalah suatu kelompok yang mencaci maki para sahabat Nabi sementara para sahabat Nabi ini sangat di hormati di kalangan umat islam. Hal inilah yang membuat syiah umumnya tidak disukai mayoritas umat Islam di Indonesia terlebih-lebih setelah masuknya paham wahabi/salafi dari Arab Saudi ke Indonesia.
Bahwa memang harus diakui ada perilaku sebagian kecil penganut Syiah yang berlebih-lebihan (ekstrim) dalam mencintai Ahlul Bait, terutama Ali, sehingga mereka melaknat para Sahabat yang menurut catatan sejarah mengambil sikap oposisi terhadap Ali. Namun kita juga harus tahu bahwa ekstrimitas itu ada dalam semua ajaran, baik Islam maupun non Islam.
Tapi secara umum tuduhan bahwa syiah memiliki doktrin melaknat sahabat adalah tidak benar.
Pemimpin Syiah Ayatullah Ali Khameini demi mewujudkan persatuan antara suni dan syiah telah mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya melakukan penghinaan terhadap para sahabat nabi dan simbol-simbol yang diagungkan ahlusunnah waljamaah (sunni).
jadi kita harus bijaksana dalam melihat permasalahan antara sunni dan Syiah ini. Sunni dan Syiah adalah sama-sama Islam dan mereka semua bersaudara.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujurat ayat 10)
Namun ajakan persatuan sunni dan syiah ini sulit diterima bagi sebagian kelompok Islam terutama mereka yang berpaham wahabi/salafi ini. Mereka bersikukuh bahwa Syiah itu sesat dan bukan Islam. Bagi mereka Syiah itu bersahabat dengan Yahudi.
(https://www.youtube.com/watch?v=2oHwi3Fv4TI)
Mereka sebenarnya tidak paham geopolitik, sejarah dan dunia pemikiran yang mengajarkan untuk berpikir kritis. Padahal ajaran Islam menyuruh Iqra dan berpikir, menyuruh banyak membaca dan menggunakan akal untuk berpikir dengan kritis. Menimbang berbagai macam informasi sebelum menarik kesimpulan (QS. Al hujurat ayat 6)
Bahwa memang Iran pada masa rezim Reza Pahlevi dekat dengan AS dan Israel. Di mana Saat itu Iran memiliki ideologi sekularisme dan liberalisme sama dengan ideologi bangsa-bangsa barat. Namun setelah revolusi Iran tahun 1979, Iran berubah menjadi Republik Islam Iran dan sejak itu Iran menggunakan ideologi Islam dan penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara.
Nah sejak itu hubungan Iran dengan AS dan Israel menjadi bermusuhan. Iran kemudian mendapat sanksi ekonomi, dan di embargo. Iran menjadi terkucil. Meskipun demikian Iran bangkit dan membangun ekonomi dan kekuatan militernya.
Pada saat Rakyat Palestina diperangi dan di bom oleh Israel tidak ada satupun negara-negara Arab yang berani membantu rakyat palestina. Negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, malah menjalin hubungan persahabatan dengan Israel. Mesir malah menutup pintu perbatasannya yang menghalangi bantuan pangan dan obat-obatan untuk masuk ke Gaza Palestina karena takut dengan AS dan Israel. Padahal saudara-saudaranya sesama muslim sedang kelaparan.
Tapi tidak dengan Iran. Iran tanpa henti-hentinya membantu rakyat Palestina termasuk dengan mengirimkan senjata kepada pejuang Hamas Palestina.
Ketika Suriah diserang oleh kelompok bersenjata ISIS bentukan AS dan Israel untuk menjatuhkan Presiden Basshar Assad yang juga tidak mau tunduk kepada AS dan Israel, maka Iran justru membantu Suriah. Hal inilah yang semakin membuat AS dan Israel marah kepada Iran dan akhirnya menyerang Iran.
Di Indonesia sendiri perang AS Israel VS Iran memunculkan polemik baru tentang Iran yang Syiah. Kelompok salafi wahabi yang sangat aktif di media sosial adalah yang paling keras bersuara bahwa Syiah Iran dianggap bukan bagian dari Islam.
Benarkah Syiah Iran bukan Islam ?
Kepada mereka yang mengatakan Syiah bukan Islam maka dengan ini ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan kepada mereka :
Pertama, Perbedaan antara sunni dan syiah itu adalah perbedaan pandangan dan pemikiran bukan perbedaan agama. Kalau anda mengatakan syiah bukan muslim, bukan Islam, maka anda harus membuktikan di dalam alquran bahwa mereka bukan muslim.
Alquran telah menjelaskan apa itu Islam, siapakah muslim dan bagaimana akidahnya, maka anda lakukanlah penelitian bahwa syiah bukan muslim dan Islam dengan rujukan berdasarkan Alquran itu. Kalau anda mengatakan syiah adalah kafir dan anda tidak bisa membawa bukti-bukti di dalam alquran maka tuduhan kafir itu kembali kepada anda.
Kemudian Kalau anda mengatakan syiah bukan muslim dan kafir karena ada fatwa ulama, maka tunjukkan fatwanya, dimana fatwanya, dan siapa yang mengeluarkan fatwa itu. Jika Syiah kelompok kafir, maka harus ada konsensus tentang hal ini. Nyatanya tidak ada konsensus para ulama yang dicapai tentang hal ini . Tidak pernah ada ijma ulama yang menyatakan syiah kafir.
Bahwa karena itu berhentilah menebar kebencian, memprovokasi umat untuk membenci syiah. Apakah antum pada hari pengadilan nanti siap berhadapan dengan Allah mempertanggungjawabkan tuduhan antum bahwa syiah kafir padahal mereka adalah muslim yang melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji sebagaimana yang antum lakukan.
Kedua, bahwa sudah saatnya umat Islam meninggalkan fanatisme sekte, aliran, paham menuju kepada persaudaraan sesama umat Islam. Di dalam Islam tidak sekte atau paham. Al quran mengecam orang yang mengkotak-kotakkan manusia dalam paham-paham keagamaan. “orang-orang yang memecah belah agama (membuat sekte/aliran/paham), Rasul tidak ada urusan dengannya. Urusan mereka nanti dengan Allah (QS. Al An’am ayat 159).
Jadi Jangan lagi memanggil diri kalian dengan kelompok kalian. saya sunni, saya syiah, saya Ikhwan, saya Jamaah Tabligh, saya Salafi, saya NU atau saya Muhammadiyah.
Panggil diri kalian muslim karena itu yang diperintahkan Allah swt di dalam Alquran (QS. Al Hajj ayat 78), Alquran memerintahkan umat Islam untuk berkata saya adalah seorang muslim (QS. fusshilat ayat 33).
Bahwa Ingat, Kalian semua tidak dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah mengenai sekte apa yang kalian anut, tapi kalian akan dimintai pertanggungjawaban sampai sejauh mana amal ibadah kalian, kebaikan hati kalian, keikhlasan hati kalian dan kecintaan kalian kepada Allah dan Rasulnya.
Ketiga, Jangan terlalu mudah mengkafirkan, terlalu mudah mengatakan sesat dan merasa diri paling benar. Umat islam saat ini membutuhkan persatuan dan kekuatan demi visi menghadapi tantangan akhir zaman serta meraih kemenangan atas musuh-musuh kalian. Musuh kalian adalah mereka yang melakukan kezaliman.
Ingat dulu dajjal telah menciptakan perang sunni dan syiah selama 8 tahun antara Irak melalui saddam Husein dengan Iran, tapi perang ini tidak berhasil menyeret dunia Islam lain untuk terlibat. lalu dengan menggunakan ISIS yang merupakan proksi mereka, mereka mencoba lagi perang dengan suriah untuk menciptakan perang sunni syiah melalui isu bahwa syiah membantai sunni. ini hampir saja berhasil namun segera disadari oleh umat Islam.
Bahwa ulama kita yang memiliki ketajaman mata hati, yang hati mereka terdapat nur (cahaya) di dalamnya karena kebersihan hati mereka, yang selalu menyeru persatuan umat Islam, selalu mengingatkan bahwa permusuhan sunni dan syiah adalah merupakan konspirasi dengan tujuan perpecahan di dalam tubuh umat Islam dan sasaran akhirnya adalah menghancurkan umat Islam itu sendiri. sadarilah ini!
Wallahu’alam.
Komentar
Posting Komentar