MENGENAL KEBENARAN MELALUI FILSAFAT
“Dengan logika saja aku bisa membuktikan Tuhan ada - tanpa kitab suci, tanpa wahyu, tanpa Iman (Ibnu Sina)”
-----------
Sejarah manusia mulai mempertanyakan tentang Tuhan adalah Ketika manusia mulai mengamati sekelilingnya. Ketika melihat didepannya ada hutan, ada aliran sungai yang mengalir, ada berbagai macam hewan dan tumbuhan mereka mulai bertanya, ini semua untuk siapa ?, ketika mereka melihat langit ada matahari, bulan dan bintang maka mereka mulai berpikir dan bertanya, siapa yang membuat ini?, siapa pun yang menciptakan semua ini ? pastilah makhluk yang jauh lebih besar, jauh lebih kuat, dan tak terlihat.
Inilah awal mula gagasan tentang Tuhan.
Sejak puluhan ribu tahun sampai saat ini manusia terus mempertanyakan tentang keberadaanTuhan. Manusia mengandalkan akal dan pengetahuannya untuk mencari tahu tentang Tuhan.
Kisah perjalanan manusia mencari Tuhan ini digambarkan di dalam alquran pada diri Nabi Ibrahim.
Perjalanan spiritualnya dimulai dari mengamati alam, mencoba mengidentifikasi Tuhan pada bintang, bulan, dan matahari. ketika Malam hari, Nabi Ibrahim melihat bintang bersinar lalu berkata, "Inilah Tuhanku. Namun, saat bintang itu terbenam, ia berkata, "Aku tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian, saat bulan terbit, ia mengira bulan adalah Tuhannya. Namun, saat bulan juga terbenam, ia berkata, ini bukan Tuhan.
Ketika matahari terbit, ia merasa matahari lebih besar dan berkata, "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar. Tetapi, saat matahari terbenam, ia menyadari bahwa matahari juga tidak kekal.
Bahwa setelah melalui proses perenungan dan logika akhirnya Nabi Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa semua yang tampak mata adalah ciptaan, bukan pencipta. Tuhan sejati adalah Allah, Sang Pencipta langit dan bumi,Tuhan yang hakiki, yaitu yang tidak pernah hilang, tidak terbatas, dan Maha Kuasa.
kisah pencarian Nabi Ibrahim tentang Tuhan tersebut menandakan kalau akal memiliki kemampuan untuk mengenal keberadaan Tuhan melalui perenungan atas keteraturan alam semesta.
Meskipun demikian akal memiliki keterbatasan. akal tidak dapat menjangkau atau memahami Dzat Tuhan secara utuh. Oleh karena itu, akal membutuhkan wahyu sebagai pelengkap untuk pengenalan yang lebih sempurna.
Dalam ajaran agama, akal dan wahyu saling membutuhkan. Akal membantu memahami wahyu, sementara wahyu melengkapi apa yang tidak mampu dijangkau akal. Jadi akal (rasio) dan wahyu (agama) tidak boleh dipertentangkan apalagi saling menafikan.
Akal yang benar tidak mungkin bertentangan dengan wahyu yang benar. Penggunaan akal/rasio yang benar justru membantu manusia memahami hikmah-hikmah ilahi dan memperkuat iman melalui argumen-argumen logis dan rasional. Sebaliknya akal membutuhkan wahyu, karena tidak semuanya bisa dijelaskan dengan nalar dan sains.
Namun peradaban barat modern dengan kebebasan berpikirnya membuat nalar menjadi liar dan tidak terkontrol. Ketika wahyu (agama) tidak lagi dipercaya karena dianggap terlalu dogmatis sementara ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat, akal budi mereka justru semakin mundur ke belakang dengan mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak ada. Tuhan hanyalah konstruksi pikiran manusia. Tuhan hanyalah ciptaan imajinasi manusia yang membutuhkan perlindungan akan rasa aman dan ketenangan dalam menghadapi kematian atau alam semesta yang tak bisa mereka kendalikan (Ludwig Feuerbach dan Sigmund Freud).
Ada juga yang mengatakan bahwa Tuhan hanyalah konsep yang masuk akal bagi pikiran manusia yang terbatas dan agama adalah ciptaan manusia yang berakar pada ketidaktahuan manusia pada masa lalu (Richard Dawkins dan Christopher Hitchens)
Stephen Hawking (dalam bukunya A Brief History of Time) menolak teori penciptaan. Dia menyakini bahwa dunia ini terjadi dengan sendirinya, tidak Ada Tuhan di sana. Pernyataan Hawking itu persis seperti seseorang yg mengamati padi di sawah sejak di tanah hingga menguning lalu setelah panen dia mengatakan : siang dan malam aku memperhatikan padi itu selama tiga bulan penuh dan aku menemukan bukan Tuhan yg menumbuhkan padi itu. Aku melihatnya tumbuh sendiri secara perlahan. Hawking dan orang-orang yang percaya dengan pernyataannya tidak ubah seperti umat Nabi Musa yang menolak beriman pada Allah hingga benar-benar melihatnya wujud-Nya.
Mereka mengajak umat manusia untuk meragukan keberadaan Tuhan. Bagi mereka Jika Tuhan memang ada, jika Tuhan itu maha baik dan maha kuasa, mengapa ada banyak kejahatan dan keburukan terjadi di dunia ini. Mengapa terjadi banyak bencana alam, perang, pembunuhan, kelaparan, kemiskinan dan sebagainya yang justru banyak menimpa orang-orang kecil, lugu dan tak berdosa ? mengapa bayi-bayi dan anak-anak polos tak berdosa harus mati sebagai korban kebrutalan perang ? Mengapa Tuhan yang katanya maha pengasih dan Maha Penyayang tidak hadir memberikan pertolongan pada mereka yang tertindas dan tak berdaya? Dimana Tuhan ketika anak-anak dan rakyat Gaza Palestina dibantai dan dibombardir secara sadis oleh Israel ? jika Tuhan ada dan maha baik mengapa Tuhan tidak mampu mencegah kejahatan dan keburukan ini?
Mereka menggugat Tuhan.
Nietzsche mengatakan Tuhan telah mati, dan kitalah yang telah membunuhnya. Ini bukanlah deklarasi ateisme melainkan kritik tajam terhadap dunia modern barat yang telah kehilangan makna tentang hidup akibat terlalu mengandalkan rasionalitas, sains dan kemajuan teknologi.
Dunia barat telah kehilangan spiritualitas. Mereka kehilangan kesadaran. Itulah mereka sekarang sedang menuju kepada kehancuran.
Mereka lupa bahwa untuk mengetahui dan memahami siapa itu Tuhan, kita harus kembali kepada wahyu (agama). kita harus memiliki kerendahan hati. Kita tidak bisa memahami Tuhan hanya dari pemikiran manusia yang terbatas jangkauannya. Kita membutuhan penjelasan dari utusanNya, dari firmanNya dalam kitab suci.
Siapakah Tuhan itu sebenarnya?
Tuhan itu bukanlah dewa-dewa seperti seperti Zeus, Apollo, Ra (dewa Matahari) sebagaimana dalam mitologi yunani dan mesir kuno. Tuhan itu bukanlah Jupiter, Neptunus Mars dan venus dalam mitologi Romawi.
Tuhan itu adalah Allah !
Allah adalah Tuhan Yang Esa, Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha Pengatur seluruh alam semesta, yang tidak menyerupai makhluk-Nya, memiliki nama-nama indah (Asmaul Husna) seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Allah merupakan satu-satunya tempat bergantung, tempat meminta, dan Hakim atas segala sesuatu, yang dapat dikenali melalui ciptaan-Nya dan wahyu-Nya.
Hanya mereka yang tunduk patuh, pasrah dan berserah diri kepadaNya yang bisa mengenal Tuhan dengan baik
Wallahu’alam
Komentar
Posting Komentar