DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG
Hanya mereka yang telah memikirkan masalah secara rasional dan mendalam yang boleh mendekati pemungutan suara (Alain de Botton - filsuf)
---------
Kita sering menganggap bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang terbaik. Diantara bentuk pemerintahan lainnya seperti Monarki dan Aristokrasi, maka demokrasi adalah alternatif terbaik karena mewakili kehendak rakyat banyak.
Meskipun demokrasi memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk mengemukakan pendapat, berdebat dan sebagainya namun dalam pengambilan keputusan ataupun memilih pemimpin tetap mengutamakan suara mayoritas. Di dalam demokrasi langsung, rakyat memilih pemimpin tanpa melalui perwakilan terpilih.
Namun yang menjadi pertanyaan, dalam bidang politik dan hak untuk memilih pemerintahan apakah betul pemimpin yang dipilih mayoritas rakyat adalah pemimpin yang terbaik ? apakah benar bahwa yang menjadi pilihan rakyat banyak itu otomatis adalah yang terbaik bagi mereka?
Seandainya anda adalah pemilik perusahaan dan mencari manajer diantara banyak karyawan, mana yang akan anda pilih ? Apakah manajer yang paling populer karena mendapat suara terbanyak atau memilih manajer yang paling kompeten dan berpengalaman meskipun dia tidak populer ?
Akal sehat anda tentunya akan memilih manajer yang paling kompeten dan berpengalaman. Anda tentu tidak akan memilih orang yang tidak kompeten untuk menjadi manajer karena resikonya perusahaan akan rugi atau bangkrut.
Lalu menurut anda mana yang lebih sulit, menjadi manajer di sebuah perusahaan atau memimpin negara dan bangsa dengan ratusan juta penduduk?
Tentu lebih sulit memimpin negara.
Bahwa untuk memilih manajer di perusahaan saja kita menolak yang tidak ahli, tidak kompeten dan tidak berpengalaman meskipun memiliki popularitas, disenangi oleh banyak orang lalu mengapa untuk memilih pemimpin bangsa, yang pekerjaannya jauh lebih sulit, kita justru percaya pada popularitas (yang sering lahir dari pencitraan).
Berapa banyak Presiden, Gubernur, Bupati, wakil rakyat, artis atau publik figur lainnya yang sebenarnya tidak kompeten tetapi akhirnya terpilih karena mendapatkan suara terbanyak.
Demokrasi memang memberikan kesempatan kepada semua orang memilih pemimpin, tetapi tidak semua orang memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang cukup dalam memilih pemimpin.
Demokrasi dengan pemilihan langsung hanya akan berjalan dengan baik di sebuah negara yang mayoritasnya rakyatnya berpendidikan dan terdidik dengan baik. Tapi di negara seperti Indonesia yang hampir seperempat (24,3%) dari 284,4 juta penduduk Indonesia tercatat tidak/belum sekolah , tingkat pendidikan yang didominasi tamatan SD (22,27%) dan sekolah menengah (35,96%) serta tamatan perguruan tinggi (D1-S3) hanya mewakili 6,82% dari total penduduk maka demokrasi sulit bisa berjalan dengan baik. (https://goodstats.id/infographic/tingkat-pendidikan-masyarakat-indonesia-2024-BFsMy)
Alain de Botton, seorang penulis dan filsuf Swiss-Inggris pernah mengatakan “hanya mereka yang telah memikirkan masalah secara rasional dan mendalam yang boleh mendekati pemungutan suara.
Sementara Plato mengatakan bahwa tidak semua orang boleh memilih tapi hanya mereka yang memiliki kualifikasi tertentu yang terpilih yang boleh terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik atau memilih pemimpin.
Bahwa rakyat yang pendidikannya masih rendah, yang mudah dibutakan oleh money politik, pembagian sembako, bantuan sosial dan sebagainya tidak akan bisa menjadi pemilih cerdas dan mereka ini gampang dimanipulasi.
Bahwa untuk bisa berjalan dengan baik, demokrasi membutuhkan kebijaksanaan dan nilai-nilai moral. Demokrasi yang dipenuhi oleh politisi-politisi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan maka hanya akan melahirkan demagog yaitu para penjahat yang membajak dukungan rakyat dengan cara-cara yang licik dan manipulatif.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2023/03/demokrasi-dibajak-oligarki.html)
Menjelang pemilu mereka mengumbar janji pada rakyat. Rakyat yang mayoritas tak mampu berpikir kritis pun percaya dan mendukung mereka. Namun setelah di pilih dan didukung oleh rakyat, politisi-politisi ini justru berubah menjadi arogan dan mengkhianati janji mereka pada rakyat. Mereka hanya sibuk memperkaya diri dan kelompoknya
(http://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2023/08/membaca-kelakuan-politisi.html)
Plato mengatakan mereka yang begitu bernafsu akan kekuasaan, justru tidak layak untuk memimpin. Orang-orang seperti itu hanya termotivasi akan ambisi pribadi untuk mendapatkan kekayaan dan pada akhirnya mereka akan saling konflik sehingga menciptakan kekacauan.
(https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2024/04/demokrasi-yang-melelahkan.html)
Apakah sebenarnya yang membuat indonesia terpuruk?
Karena rakyat indonesia sendiri tidal memiliki kesadaran dalam berdemokrasi
Mereka gagal dalam memilih memimpin baik untuk presiden, gubernur, bupati dan kades.
Nabi Muhammad saw mengatakan,”ketika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak kompeten maka tunggulah kehancurannya”.
Bahwa pada akhirnya politik demokratis tidak hanya soal memilih pemimpin terbaik, tetapi juga mencegah orang orang jahat berkuasa. (https://muhammadahsanthamrin.blogspot.com/2020/07/pilkada-langsung-partai-politik-dan-kkn.html)
Wallahu'alam
Komentar
Posting Komentar